Model Koseling Multikultural Melalui Penanaman Nilai Budaya 4S "Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Siri na Pacce" dalam Mereduksi Degradasi Moral Remaja Era Milenial di SMKN 1 Pangkep, Kec. Bungoro, Kabupaten Pangkep
Abstrak
NUR SUCI IZRAMADHANI, 2020, Model Konseling Multikultural Melalui Penanaman Nilai Budaya 4S “Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Siri Na Pacce” Dalam Mereduksi Degradasi Moral Remaja Era Milenial di SMKN 1 Pangkep, Kec. Bungoro, Kabupaten Pangkep. Skripsi. Di bimbing oleh Muh. Ilham Bakhtiar, S.Pd., M.Pd. dan Ahmad Yusuf, S.Pd., M.Pd. Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP Andi Matappa Pangkep. Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa peserta didik merupakan makhluk sosial yang akan terus berkembang seiring berkembangnya teknologi. Perkembangan teknologi dan globalisasi secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi perkembangan moral remaja pada era milenial, gaya hidup modernisasi saat ini yang sedang trend membawa dampak positif sekaligus juga dampak negatif yang sangat besar. Remaja terlena dengan kemajuan teknologi terutama handphone, internet, dan televisi, mereka sibuk di dunia maya tanpa peduli batasannya dan lingkungan sekitarnnya. Hal ini menjadi tantangan bagi guru bimbingan dan konseling agar dapat membangun sinergi dan tanggung jawab terhadap karakter anak antara sekolah, orang tua dan masyarakat, hal ini dapat ditanggulangi dengan pengembangan nilai-nilai karakter siswa dengan pengembangan model konseling multicultural berbasis budaya 4S “Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Siri Na Pacce”. Penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development) model Borg and Gall yang menelaah pengembangan budaya 4S “Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Siri Na Pacce” sebagai media untuk mereduksi degradasi moral siswa pada era milenial. Masalah utama dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana gambaran kebutuhan siswa terhadap model konseling multikultural berbasis nilai budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce)” dalam mereduksi degradasi moral siswa di SMKN 1 Pangkep ? (2) Bagaimana gambaran model konseling multikultural berbasis nilai budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce)” yang diterima melalui uji kelayakan, uji kegunaan, dan uji ketepatan dalam mereduksi degradasi moral siswa di SMKN 1 Pangkep ? (3) Apakah ada perbedaan sebelum dan sesudah diberikan layanan dengan menggunakan model konseling multikultural berbasis nilai budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce)”dalam mereduksi degradasi moral siswa SMKN 1 Pangkep?. Penelitian ini menggunakan Teknik pengumpulan data observasi, angket dan wawancara. Hasil penelitan ini berupa panduan konseling dengan nilai budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce)”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan nilai budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce)”dibutuhkan di SMKN 1 Pangkep, selanjutnya dikembangkan model sebagai panduan untuk membantu guru bimbingan dan konseling dalam mereduksi degradasi moral siswa era milenial dengan lima sesi kegiatan dimana tiap tahapan kegiatan menyajikan materi budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce), refleksi dan lembar kerja. Dan berdasarkan seluruh kegiatan penilaian dari uji akseptibilitas (kegunaan, kelayakan, ketepatan dan isi materi) uji kelompok kecil dengan menggunakan statistic uji Wilcoxon, maka panduan konseling multikultural dengan nilai budaya 4S “(sipakatau, sipakainge, sipakalebbi, siri na pacce)” sangat efektif dalam mereduksi degradasi moral siswa pada era milenial di SMKN 1 Pangkep, Kab. Pangkep.